Sabtu, 27 Februari 2010

Bencana Longsor di Indonesia

Indonesia terkenal dengan intensitas curah hujannya yang tinggi sehingga untuk daerah-daerah perbukitan yang rentan terhadap longsor akan sering mengalami terjadinya bencana longsor, ini dikarenakan jenis tumbuhan yang ditanam di sana bukan merupakan jenis tumbuhan yang besar dan
dapat menahan resapan air.

Dan daerah-daerah yang sering mengalami bencana longsor adalah Jawa Barat, Dalam tahun 2005 terjadi 47 kali musibah tanah longsor atau gerakan tanah
di Indonesia, yang mengakibatkan 243 orang meninggal dunia. Dari kuantifikasi tersebut, berarti terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya terdata 32 kasus dan 110 orang meninggal dunia.
Hal itu terungkap dari pemaparan Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Bandung Dr. Surono di Bandung, Kamis (29/12). Surono menyampaikan refleksi dan laporan akhir tahun tentang gejala geologi di tanah air.
Dikatakan, 47 bencana alam tanah longsor tersebut, yang paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Barat. "Hal ini memang terkait dengan kondisi geologis dan geografis Jabar. Selama 2005, di Jabar terjadi 39 kali longsor atau gerakan tanah, yang mengakibatkan 205 orang meninggal dunia, 490 rumah mengalami kerusakan, 114 rumah hancur, dan 758 rumah terancam," ujar Surono.

Dan bencana longsor yang belum lama terjadi yaitu di tebing Gunung Waringin, Kampung Datar Kiara, Desa Tenjolaya, Kelurahan Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Daerah yang sebelum terjadinya bencana longsor adalah kawasan kebun teh ini luluh lantah diterjang tanah longsor, dan sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan akibat tanah longsor.

Tanah longsor disebabkan oleh banyak hal yaitu:

1. Peningkatan kandungan air dalam lereng, sehingga terjadi akumulasi air yang merenggangkan ikatan antar butir tanah dan akhirnya mendorong butir-butir tanah untuk longsor. Peningkatan kandungan air ini sering disebabkan oleh meresapnya air hujan, air kolam/selokan yang bocor atau air sawah kedalam lereng.
2. Getaran pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan, penggalian, getaran alat/kendaraan. Gempa bumi pada tanah pasir dengan kandungan air sering mengakibatkan liquefaction (tanah kehilangan kekuatan geser dan daya dukung, yang diiringi dengan penggenangan tanah oleh air dari bawah tanah).
3. Peningkatan beban yang melampaui daya dukung tanah atau kuat geser tanah. Beban yang berlebihan ini dapat berupa beban bangunan ataupun pohon-pohon yang terlalu rimbun dan rapat yang ditanam pada lereng lebih curam dari 40 derajat.
4. Pemotongan kaki lereng secara sembarangan yang mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga.

Upaya penanggulangan tanah longsor:

1. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya
2. Mengurangi tingkat keterjalan lereng
3. Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).
4. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling
5. Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras - teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)
6. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).
7. Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat
8. Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan
9. Pengenalan daerah rawan longsor
10. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)
11. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.
12. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi cairan).
13. Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel
14. Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.

Sumber :
www.indonesia.go.id
www. bnpb.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar